HOME

Rabu, 12 Juni 2013

Fenomena dibalik Revolusi Dunia arab (Arab Spring)

“Arab Spring”(REVOLUSI yg ternodai)

       Semenjak tewasnya mantan penguasa Libya, Moammar Khadafi, yang telah menambah daftar pemimpin Arab yang tersingkir akibat gelombang revolusi. Kejadian ini diawali dari revolusi Tunisia yang memaksa Presiden Zein Abidine Ben Ali lari tunggang langgang ke Arab Saudi. Kejadian serupa menimpa Presiden Mesir Hosni Mubarak yang dipaksa lengser dan kini sedang dalam  proses pengadilan di Kairo. Salah satu isu yang kini terus menjadi sorotan, bahkan menjadi polemik, adalah tentang peran asing, khususnya AS, di balik revolusi Arab itu. Tentu tidak bisa dipungkiri dukungan kuat AS dan Barat  terhadap revolusi Arab. Presiden AS Barack Obama, misalnya, secara tegas meminta Presiden Hosni Mubarak mundur saat revolusi Mesir  dan kini  Obama  juga meminta Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur. Andil AS dalam penumbangan rezim Khadafy di Libya tak kalah besar. AS tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk operasi militer bagi perlindungan warga sipil di Libya. Bahkan, AS mengerahkan pesawat tanpa awak, Predator, untuk memburu pasukan  loyalis Khadafi, akibat revolusi ini juga menyisakan kepahitan dan kesedihan karena sudah berapa jiwa yang tewas dalam peristiwa tersebut dan yang masih hangat adalah  revolusi suriah yang hingga kini telah banyak menewaskan nyawa kaum muslimin dan nampaknya Turki akan segera menyusul setelah masyarakat turki menuntut perdana mentri Erdogan yang sekuler mundur dari jabatannya pada (10/6/2013).

            Arab Spring merupakan  sebuah fenomena merebaknya revolusi demokrasi di dunia Arab. Dalam konteks Arab Spring, sesuatu yang bersemi adalah nilai-nilai demokrasi yang kemudian menyebar dengan efek domino ke negara-negara sekitarnya. Kebanyakan negara-negara di Arab memang tidak menerapkan nilai demokrasi secara terbuka, untuk itulah kebebasan-kebebasan rakyat dalam demokrasi seringkali lebih menarik daripada pemerintahan model  kerajaan yang tertutup. Ekspresi kebebasan rakyat inilah yang menjadi daya tarik utama pada sistem demokrasi. Selain adanya daya tarik tersebut, demokratisasi dunia Arab juga didorong oleh beberapa faktor, diantaranya adalah praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) yang sangat kerap terjadi dalam model pemerintahan monarki autoritarianisme. Rendahnya daya pantau masyarakat akan hal ini membuat demokrasi menjadi hal mutlak sebagai tuntutan. Selain itu, maraknya praktik KKN juga memberikan imbas yang cukup signifikan bagi kehidupan  masyrakat bawah. KKN menyebabkan sistem ekonomi rapuh, sehingga yang terjadi adalah diantaranya, tingginya harga barang-barang pokok dan banyaknya pengangguran dikarenakan lapangan kerja yang sedikit. 


            Arab Spring secara implisit menjadi hal yang dapat dikaitkan dengan globalisasi ala negara-negara Barat, yang dimotori oleh Amerika Serikat. Memang, berkembangnya sistem informasi turut membawa serta ide-ide kebebasan. Namun, masyarakat Arab menolak anggapan bahwa proses demokratisasi dunia Arab, atau yang lebih dikenal sebagai Arab Spring, merupakan semata-mata pengaruh dari negara-negara Barat. Arab Spring dikatakan merupakan asli keinginan masyrakat Arab Sendiri, tanpa intervensi dari pihak manapun. Hal ini diperkuat dengan sering gagalnya upaya demokratisasi di Libya, Bahrain, dan Yaman Dan juga dikarenakan adanya campur tangan dari PBB, baik sebagai oposan maupun pendukung pemerintahan yang dikudeta. Sementara itu, Amerika Serikat dalam hal ini, ‘hanya’ memposisikan diri dalam logika aliansi, seperti yang terjadi di dalam kasus Palestina terkait dengan percobaan  kemerdekaan dari kelompok Hamas. Pada umumnya, dunia internasional pun mempunyai pandangan yang berbeda-beda terhadap peristiwa Arab Spring ini. Dalam kasus Libya misalnya, PBB memberikan sanksi terhadap rezim yang berkuasa. Begitu juga dengan Uni Eropa yang tidak hanya memberikan sanksi tapi juga embargo. NATO malah dengan terang-terangan memberikan bantuan personil militer untuk menumbangkan pemerintahan sah Libya yang dikudeta tersebut.


Revolusi yang telah ternodai kepentingan barat


Dukungan AS dan Barat terhadap revolusi Arab itu bukan  tanpa pamrih. AS dan Barat yang selama ini dikenal pendukung kuat rezim-rezim diktator Arab tiba-tiba berubah arah. AS dan Barat tampaknya segera menyadari, percuma mempertahankan kapal yang sudah mau tenggelam. Mereka pun segera membonceng gerakan revolusi rakyat, yang dimulai dari Tunisia, diikuti Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah. Tujuannya adalah agar AS dan Barat tidak kehilangan pengaruh di kawasan strategis itu (Timur Tengah). Akan tetapi, banyak analisis di Timur Tengah menyebutkan, perubahan sikap AS dan Barat itu sangat spekulatif, muncul analisis tentang kemungkinan mundurnya peran AS dan Barat di dunia Arab pascarevolusi. AS tampaknya sudah mengantisipasi tentang risiko kemerosotan pengaruhnya di kawasan strategis itu. AS pun kini melakukan pertarungan dengan melobi kekuatan-kekuatan internal di Tunisia, Mesir, dan Libya agar mereka bersedia menjadi bumper bagi kepentingan AS di negara- negara tersebut.Pemilu demokratis inilah yang nantinya bersedia menjalin hubungan istimewa dengan Barat, khususnya AS. Berbagai cara dilakukan barat untuk membajak perubahan revolusi timur tengah diantaranya:·         Memanfaatkan politisi boneka
·         Memberikan hutang
·         Melakukan interverensi militer
·         Mempropagandakan islam moderat
·         Mengendalikan media massa untuk opini publik


Kondisi pasca  revolusi.


Pertanyaan mendasar yang perlu digaris bawahi adalah sudahkah perubahan yang terjadi dinegri-negri kaum muslimin tersebut sudah sesuai dengan islam?Analisis dari pertanyaan tersebut harusnya mengandung dua unsur utama yang arahannya benar. Pertama, menjadikan islam baik aqidah  maupun  syariatnya sebagai panduan ideologis untuk mendirikan  negara khilafah yang akan menerapkan islam secara kaffah didalam negri maupun menyebarkannya diluar negri dengan jihad, kedua menolak secara total segala bentuk intervensi asing ke negri-negri islam dan tidak sekalipun meminta bantuan kepada asing. Sayangnya 2 unsur  tersebut tersebut tidak ter penuhi dalam revolusi timur tengah yang telah terjadi hingga sekarang. Yang terjadi hanyalah perubahan sosok penguasa bukan perubahan sistem menjadi negara  khilafah ,contohnya mesir yang telah  melaksanakan pemilu dan memilih Mohammad Mursi sebagai pemimpin dari Ikhwanul muslimin, juga enggan menerapkan sistem Islam di mesir, begitu pula di tunisia yang malah mengambil kebijakan refresif setelah tergulingnya presiben Ben Ali,semua partai berlandaskan islam juga dilarang oleh pemerintah. Begitu pula kasus yaman dan suriah juga akan menyusul nasib negara-negara islam lainnya. Dari serangkaian revolusi yang terjadi di timur tengah terdapat pelajaran berharga bahwa sesungguhnya perubahan nyata tidak akan terwujud hanya dengan mengandalkan kebencian terhadap rezim diktator semata dan ketidak adilan ekonomi. Perubahan yang kini harus dilakukan adalah perubahan mendasar yakni mencabut akar persoalan  umat dan melakukan perubahan sistemk bukan hanya perubahan temporal semata dan dalam kasus revolusi timur tengah adalah akibat dari ketiadaan konsep perubahan yang jernih serta sikap berkompromi dengan berbagai pihak dan  kepentingan asing semata padahal ALLAH SWT telah berfirman dalam ALQURAN:Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan  penolong bagimu.(Albaqarah ayat 120)


Sehingga perubahan hakiki yang seharusnya dilakukan adalah bukan mengikuti kaum kafir  dengan menerapkan demokrasi tetapi menerapkan hukum  syariat islam dalam landasan bernegara sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di negara madinah, karena pada hakikatnya Demokrasi tidak didesain untuk perubahan tetapi hanya untuk memperkuat sistem kapitalisme dan sekulerisme dinegari-negri kaum muslimin untuk tetap memancangkan kepentingan barat disana.   


Mempersiapkan perubahan revolusioner dengan islam


Berkaca dari ARAB SPRING yang telah gagal mengembalikan kedaulatan islam dalam suatu negara khilafah maka,  untuk mempersiapkan peubahan yang revolusioner sesungguhnya adabeberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mencetuskan perubahan ditengah-tengah masyarakat sehingga perubahan tersebut tidak hanya sekedar perubahan sosok semata tetapi perubahan menyeluruh. Syarat-syarat tersebut antara lain:

1) Adanya visi perubahan yang kuat dan jelas. Di Masyarakat harus ditumbuhkan kesadaran bahwa Bukan sekedar menggganti rezim saja tetapi secara total mengganti sistem kufur dengan islam dan mereka juga harus disadarkan bahwa sistem islam hanya mampu ditegakkan ketikahukum syariah diterapkan secaramenyeluruh dalam koridor negara KHILAFAH ISLAMIYAH.
2)Adanya kelompokkuat yang mampu memimpin dan mengawal ummat menuju perubaha yang hakiki dan revolusioner. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa menegakkan KHILAFAH adalah aktivitas yang beratyang tidak mampu dipikul oleh individu maupun kelompok individu dan hanya bisa diwujudkan dengan kerja kolektif yang melibatkan jamaah yang terorganisasi dengan baik  serta mempunyai master plan yang rinci untuk membentuk negara yang berlandaskan islam.
3)Adanya opini umum yang lahir dari kesadaran umum dari masyarakat untuk membebaskan ummat dari dominsi sistem kufur sehingga siap menyongsong tegaknya khilafah
4)Adanya kesadaran politik ditengah-tengah ummat yang selalu memandang persoalan baik lokal maupun internasional darisudut pandang islam
5)Adanya dukungan para ahlul quwah (pemilik kekuasaan real ditengah-tengah masyarakat sekaligus representasi dari kekuasaan ) karena tanpa dukungan mereka islam tak akan mungkin mampu meraih kekuasaan dari tangan Ummat.

Sesungguhnya perubahan revolusioner yang harus  diperjuangkan kaum muslimin sekarang adalah dengan mengganti sistem kufur yang ada ditengah-tengah ummat dengan hukum syariat islam dibawah Daulah Islam dan Metode satu-satunya untuk mendirikan Daulah Islam hanya dengan mengemban dakwah Islam dan melakukan upaya untuk melanjutkan kehidupan yang islami. Hal itu menuntut adanya usaha menjadikan negeri-negeri Islam menjadi satu kesatuan, karena kaum Muslim adalah umat yang satu yang tiada lain merupakan kumpulan manusia yang disatukan oleh akidah yang satu, yang terpancar darinya aturan-aturan Islam. Karena itu, munculnya aktivitas apapun di suatu negeri Islam mana pun akan berpengaruh pada wilayah-wilayah Islam lainnya. dalam keadaan seperti itu juga akan menggerakkan perasaan dan pemikiran. Karena itu, seluruh negeri-negeri Islam harus dijadikan sebagai negeri yang satu dan dakwah  harus diemban di seluruh negeri tersebut, sehingga berpengaruh di tengah masyarakatnya. Hal itu karena masyarakat yang satu akan mampu membentuk umat yang kuat dan mampu menciptakan dorongan perubahan dinegri-negri kaum muslimin karena kita tidak ditakdirkan untuk menyaksikan perubahan tetapi kita ditakdirkan untuk memperjuangkan perubahan untuk ummat ini menuju perubahan yang hakiki yaitu dengan menerapkan syariat islm dibawah daulah khilafah islamiyah ala minhajji nubuwah.


Sumber
An-Nabhani , Asy-Syaikh Taqiyuddin, Daulah Islam (ed. Mu’tamadah) cetakan ke -4, HTI Press, 2009. Jakarta
http://internasional.kompas.com/read/2011/10/25/07365095/Revolusi.Arab.Bisa.Pudarkan.Hegemoni.AS
Al wa’ie, Revolusi Prematur Di dunia islam No 129 Tahun XI 1-31 mei 2011
Al wa’ie, Barat Membajak Revolusi No 136 Tahun XII 1-31 desember 2011
Al wa’ie, jalan menuju khilafah, No 142 Tahun XII 1-30 juni 2012     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar